Pemenang Anugerah Sastra Khatulistiwa ke 13

photo-1 Pemenang Kategori Fiksi, Leila Chudori

Pemenang Anugerah Sastra Khatulistiwa ke 13

photo Pemenang Kategori Puisi, Afrizal Malna

Published in: on 26 November 2013 at 5:38 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags:

5 Besar Khatulistiwa Literary Award ke 13

Berikut kami hadirkan secara acak 5 Besar Khatulistiwa Literary Award ke 13:

Kategori Prosa

1. Surat Panjang tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya, novel karya Dewi Kharisma Michellia. (Gramedia Pustaka Utama, Juni 2013)
2. Pulang, novel karya Leila S Chudori. (Kepustakaan Populer Gramedia, Desember 2012)
3. Murjangkung (Cinta yang Dungu dan Hantu-hantu), kumpulan cerpen karya AS.Laksana. (Gagas Media, Januari 2013)
4. Amba, novel karya Laksmi Pamuntjak. (Gramedia Pustaka Utama, September 2012)
5. Pasung Jiwa, novel karya Okky Madasari. (Gramedia Pustaka Utama, Mei 2013)

Kategori Puisi

1. Munajat Buaya Darat, karya Mashuri, (Gress Publishing, Desember 2012)
2. Kopi, Kretek, Cinta, karya Agus R Sardjono, (Komodo Books, Juni 2013)
3. Museum Penghancur Dokumen, karya Afrizal Malna, (Garudhawaca, April 2013)
4. Telapak Air, karya Soni Farid Maulana, (Komunitas SLS, Maret 2013)
5. Odong-Odong Fort de Kock, karya Deddy Arsya, (Kabarita, Mei 2013)

Para finalis 5 Besar Khatulistiwa Literary Award diharap untuk bisa hadir pada Malam Anugerah Sastra Khatulitistiwa bertempat di Plasa Senayan, Minggu Kedua November, 2013, jam 7 Pm.

Published in: on 21 Oktober 2013 at 9:08 am  Komentar (3)  

10 Besar Khatulistiwa Literary Award 2013

Berikut kami siarkan susunan acak buku-buku sastra, kategori prosa dan puisi, yang terseleksi masuk dalam 10 besar Khatulistiwa Literary Award (KLA) 2013;

Kategori Prosa

1. Murjangkung (Cinta yang Dungu dan Hantu-hantu), kumpulan cerpen karya AS.Laksana. (Gagas Media, Januari 2013)

2. Surat Panjang tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya, novel karya Dewi Kharisma Michellia. (Gramedia Pustaka Utama, Juni 2013)

3. Pulang, novel karya Leila S Chudori. (Kepustakaan Populer Gramedia, Desember 2012)

4. Kaki yang Terhormat, kumpulan cerpen karya Gus tf Sakai. (Gramedia Pustaka Utama, Juli 2012)

5. Ayahmu Bulan Engkau Matahari, kumpulan cerpen Lily Yulianti Farid. (Gramedia Pustaka Utama, Juli 2012)

6. Amba, novel karya Laksmi Pamuntjak. (Gramedia Pustaka Utama, September 2012)

7. Kinoli, kumpulan cerpen karya Yetti A. Ka. (Javakarsa Media, Juli 2012)

8. Yang Menunggu dengan Payung, kumpulan cerpen karya Zelfeni Wimra. (Gramedia Pustaka Utama, Maret 2013)

9. Pasung Jiwa, novel karya Okky Madasari. (Gramedia Pustaka Utama, Mei 2013)

10. Kukila, kumpulan cerpen karya M.Aan Mansyur. (Gramedia Pustaka Utama, September 2012)

Kategori Puisi

1. Desis Kata-kata, karya Heni Hendrayani, (Komunitas SLS, Februari 2013)

2. Penyair Midas, karya Nanang Suryadi (Indie Book Corner, April 2013)

3. Museum Penghancur Dokumen, karya Afrizal Malna, (Garudhawaca, April 2013)

4. 9 Kubah, karya Evi Idawati, (Isac Book, Juni 2013)

5. Telapak Air, karya Soni Farid Maulana, (Komunitas SLS, Maret 2013)

6. Ciuman yang Menyelamatkan dari Kesedihan, karya Agus Noor, (Motion Publishing, November 2012)

7. Odong-Odong Fort de Kock, karya Deddy Arsya, (Kabarita, Mei 2013)

8. Munajat Buaya Darat, karya Mashuri, (Gress Publishing, Desember 2012)

9. Kepulangan Kelima, karya Irwan Bajang, (Indie Book Corner: April 2013)

10. Kopi, Kretek, Cinta, karya Agus R Sardjono, (Komodo Books, Juni 2013)

Dari daftar 10 Besar ini, dewan juri akan kembali bekerja, untuk memilih 5 Besar KLA 2013.

Jakarta, Oktober 2013
Panitia KLA 2013

Published in: on 3 Oktober 2013 at 12:56 pm  Komentar (1)  

Khatulistiwa Literary Award ke 13

Tahun ini Khatulistiwa Literary Award kembali diselenggarakan. Hadir dengan dua kategori, yaitu Fiksi dan Puisi, KLA 2013 akan menganugerahkan penghargaan untuk karya-karya terbaik yang terbit antara periode Juli 2012-Juni 2013. Masing-masing pemenang akan mendapatkan hadiah sebesar Rp50.000.000.

Di bawah ini adalah syarat-syarat karya yang berhak masuk ke proses penjurian:

1. Ditulis oleh penulis Indonesia dalam bahasa Indonesia.
2. Berupa kumpulan cerpen atau novel (tunggal) dan kumpulan sajak (tunggal). Antologi bersama tidak diperkenankan.
3. Diterbitkan di Indonesia dalam kurun waktu Juli 2012 s/d Juni 2013Gambar Pemenang KLA ke 12, Maryam olehOkky Madasari
4. Merupakan karya sastra asli yang diterbitkan pertama kali dalam bentuk buku. Edisi cetak ulang tidak diperkenankan.

Bagi para penerbit yang berminat ikut serta, (bukan kriteria partisipasi) silakan mengirimkan buku-bukunya (masing-masing judul 8 eksemplar) untuk dinilai oleh tim juri ke alamat: ReadingRoomJkt, Jl Kemang Timur Raya no 57, Jakarta

Malam Anugerah Sastra Khatulistiwa Literary Award ke 13 akan diselenggara di atrium Plasa Senayan, minggu kedua November

Published in: on 11 September 2013 at 8:37 am  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: , ,

Beberapa foto Malam Anugerah Sastra Khatulistiwa ke 12 via Bamby Chayadi

12071_4646180067850_1574120422_n21902_4646178507811_1189292048_n65121_4646183707941_786981563_n66066_4646181107876_2025698543_n73219_4646176227754_1244883804_n148412_4646183507936_1137668062_n198210_4646179907846_221003146_n315885_4646179507836_1536955278_n486335_4646177387783_1581837894_n556952_4646177027774_1558091647_n598366_4646181907896_626931189_n

Published in: on 4 Desember 2012 at 9:54 am  Komentar (1)  

Pemenang Khatulistiwa Literary Award ke 12, 2012

Kategori Prosa: Okky Madasari, Maryam
Kategori Puisi: Zeffrey Alkatiri: Postkolonial dan Wisata Sejarah

Published in: on 29 November 2012 at 9:31 pm  Komentar (1)  
Tags:

5 Besar Khatulistiwa Literary Award ke 12

Berikut adalah 5 Besar Khatulistiwa Literary Award menurut abjad nama pertama

Fiksi
Cerita Cinta Enrico, Ayu Utami
65, Gitanyali
Seekor Anjing Mati di Bala Murghab, Linda Christanty
Maryam, Okky Madasari
Gadis Kretek, Ratih Kumala

Puisi
Secangkir Harapan, Aspar Paturusi
Langit Pilihan, Eka Budianta
Benih Kayu Dewa Dapur, Hana Fransisca
Mahna Hauri, Hasan Aspahani
Postkolonial dan Wisata Sejarah, Zeffry Alkatiri

Malam Anugerah Sastra Khatulistiwa ke 12 akan diselenggara pada tanggal 29 November, 2012 jam 7 pm di Atrium Plaza Senayan.

Published in: on 26 November 2012 at 9:26 am  Komentar (2)  

Khatulistiwa Literary Award ke 12

10 Besar Khatulistiwa Literary Award 2012
(dalam urutan menurut nama pertama)

Fiksi

1. Ayu Utami, Cerita Cinta Enrico. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia (Februari 2012)
2. Gitanyali, 65. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia (Mei 2012)
3. Iwan Setyawan, Ibuk,. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama (Juni 2012)
4. Krishna Pabichara, Gadis Pakarena. Jakarta: Dolphin (2012)
5. Linda Christanty, Seekor Anjing Mati di Bala Murghab. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama (Juni 2012)
6. Ni Komang Ariani, Bukan Permaisuri: Kumpulan Cerpen (Juni 2012)
7. Okky Madasari, Maryam. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama (Februari 2012)
8. Putu Fajar Arcana, Gandamayu. Jakarta: Kompas (Januari 2012)
9. Ratih Kumala, Gadis Kretek. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama (Februari 2012)
10. Tere Liye, Negeri Para Bedebah. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama (Juli 2012)

PUISI

1. Aspar Paturusi, Secangkir Harapan. Jakarta: Kosa Kata Kita
2. Badruddin Emce, Diksi Para Pendendam. Yogyakarta: Akar Indonesia
3. Eka Budianta, Langit Pilihan. Jakarta: Kosa Kata Kita
4. Epri Tsaqib, Mata Ruang. Jakarta: Geraibuku.com (2011)
5. Hana Fransisca, Benih Kayu Dewa Dapur. Depok: Komodo Books
6. Hasan Aspahani, Mahna Hauri (A Fairy’s Veil). Depok: Koekoesan
7. Lan Fang, Ghirah Gatha. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama (2011)
8. Rama Prabu, Namaskara. Bandung: Dewantara Institute
9. Sapardi Djoko Damono, Namaku Sitta. Jakarta: Editum
10. Zeffry Alkatiri, Post Kolonial & Wisata Sejarah Dalam Sajak. Jakarta: Padasan

Pertanggungjawaban Dewan Juri Khatulistiwa Literary Award 2011

Dalam sidangnya beberapa hari lalu Dewan Juri Khatulistiwa Literary Award (KLA) 2011 telah berdebat cukup hangat, jika bukan panas, untuk memastikan siapa-siapa yang layak beroleh kemenangan tahun ini. Sebelum menetapkan siapa-siapa pemenangnya, ada baiknya kami ungkapkan kondisi umum buku-buku yang masuk dalam Lima Besar KLA 2011. Untuk kategori fiksi boleh dibilang hampir tidak ada karya yang unggul sepenuhnya. Baik itu yang ditulis oleh pengarang yang sudah punya nama, maupun yang ditulis oleh pengarang yang terbilang baru muncul. Masing-masing karya seperti membawa cacatnya masing-masing, di samping keunggulan. Tetapi di sini kami membutuhkan pemenang, karena itu penilaian mesti dijalankan dengan prinsip “minus malum”, yang paling sedikit jeleknya.

Yang umum kami rasakan saat membacai kembali karya-karya itu adalah belum dipegangnya disiplin berbahasa dalam mengarang. Seakan-akan menulis hanya sekadar masalah apa yang mesti dikatakan seorang pengarang, bukan bagaimana cara mengatakannya. Jika apa yang dikatakan pengarang kita percaya sebagai isi, maka bagaimana mengatakannya adalah bentuk. Isi hampir tidak bisa tampil tanpa bentuk. Sebaliknya, bentuk hanya bisa ada jika ada isi yang menggerakkannya. Karena itu, mengikuti seorang kritikus sastra dari Cina, isi dan bentuk sebenarnya tidak bisa dipisahkan. Bahasa sebagai medium utama karya sastra sudah semestinya dikuasai dengan baik, di samping segi-segi keperajinan yang lain.

Beruntung kami mendapatkan karya yang ditulis dengan kesadaran bahasa yang cukup baik. Pada karya ini kami mendapatkan kenyataan bahwa kehadiran warna lokal dalam khazanah sastra Indonesia bukan soal bagaimana kosa-kata bahasa daerah menyeruak sedemikian rupa demi menunjang nalar cerita, tetapi ia melebur sepenuhnya ke dalam cerita. Ia bukan hanya mendesakkan kosa-kata bahasa daerah atau latar, tetapi juga nalar manusia daerah ketika berhadapan dengan manusia yang datang dari daerah lain. Katakanlah semacam gesekan antara pusat dan daerah, antara kepentingan politik Jakarta yang agresif dan masa depan daerah yang mencemaskan.

Dalam kondisi seperti ini, tiada satu pun manusia yang selamat. Semua adalah korban dari keadaan, dari kebijakan yang kelewat menomorsatukan Jakarta, Jawa, dan mengabaikan daerah-daerah lain. Dan sebagai korban seorang tokoh bukanlah ia yang meratapi nasibnya dari awal sampai akhir kisah. Tetapi ia yang dengan sabar mengisahkan cerita sembari mengambil jarak yang cukup dengan peristiwa itu. Dengan posisi ini ia bukan hanya bisa memberikan simpati kepada siapa saja yang menjadi korban, tetapi juga mengejek kekalahan dan ketololan para korban itu. Sikap mengejek diri sendiri dalam skalanya yang lebih luas membuat kisah menjadi penuh satire dan ironi yang mengejutkan.

Novel ini terasa unggul karena mampu mendedahkan satire dan ironi sebagai jurus cerita yang tidak semua pengarang bisa memainkannya. Ia menjadi subversif karena membantah cara pandang yang selama ini dianggap lazim dan itu disuarakan oleh pengarang yang terhitung orang dalam, ia yang langsung atau tidak langsung menjadi korban. Selama ini kita memandang peristiwa pergolakan politik di daerah dengan bias kepentingan masing-masing. Jika tidak menaruh simpati yang besar kepada para korban dan mengutuki mereka yang memainkan peran dalam kekacauan itu, pasti kita mengutuk pemerintah yang tidak becus mengurusi negeri ini.

Sementara novel ini dengan ringannya menceritakan semua itu dengan rasa humor yang cukup tinggi, di samping tak menghilangkan simpati kepada para korban. Masing-masing peristiwa ditampilkan dengan kengerian yang terus membayang, seperti pembantaian sekelompok penduduk kampung oleh tentara, tetapi di baliknya selalu ada humor dan sikap mencela yang tanpa ampun. Meski naratornya adalah seorang yang bertugas menjaga moral manusia, seorang guru mengaji di desa, tetapi ia tidak bisa menyembunyikan hasratnya untuk memaki dan mencemooh mereka yang tolol dan sok kuasa. Pengarang menampilkan tokoh-tokoh, tak terkecuali tokoh utama, yang tidak lagi hitam putih, tetapi selalu ada sisi lain yang membuat identitasnya tidak pernah tunggal, dan senantiasa bertolak-belakang satu sama lain. Yang juga menggirangkan, novel ini ditulis dalam bahasa Indonesia yang cukup baik, di samping penyuntingan yang rapi.

Karena itu, kami menetapkan pemenang Khatulistiwa Literary Award 2011 untuk kategori fiksi adalah novel Lampuki karya Arafat Nur.

Sementara untuk kategori puisi kami mendapati kenyataan makin banyaknya muka-muka baru yang bermunculan, yang mencoba menggoyang dominasi penyair yang sudah cukup punya nama. Akan tetapi dalam konstelasi seperti ini selalu ada yang bisa disepakati, hanya yang unggul yang bisa bertahan dan terus menggoda imajinasi kita. Masing-masing penyair telah mengeluarkan jurus-jurus terbaiknya untuk membuktikan bahwa karyanyalah yang paling unggul.

Begitulah, jika selama ini kita percaya bahwa puisi cenderung memadatkan dan prosa menguraikan, maka kini kita wajib menyangsikannya. Puisi bukan hanya memadatkan, tetapi juga menguraikan. Puisi adalah juga prosa dalam tampilan yang lain. Atau sebaliknya, prosa adalah puisi yang tengah meluaskan dirinya. Karena itu siapa pun penyair yang bersikukuh pada satu jurus saja akan tampak miskin di tengah kemahakayaan jurus-jurus yang ada. Puisi pada akhirnya menjadi seluas dunia, dan ia bisa menyadap semangat bukan hanya dari dunia hari ini yang membosankan, tetapi juga dari khazanah kuna, semisal kitab suci dan mitologi.

Pada puisi-puisi penyair ini kita mendapatkan semacam penjelajahan yang terus-menerus sehingga puisi mampu mengucapkan apa saja, dengan bahasa yang terus-menerus diperluas dan disegarkan. Dalam bentuknya sendiri ia bukan hanya mengolah sajak empat seuntai (kuatrin) atau dua seuntai, tetapi juga puisi-prosa, makhluk hibrida yang tidak gampang ditebak jenis kelaminnya. Kadang-kadang ia menggunakan bentuk tradisional bukan sekadar bersenang-senang dengan khazanah lama, tetapi juga mempertanyakan kaum penyair yang tengah memanjakan seleranya dengan puisi bebas.

Sementara kata-kata tampak menjadi segar di dalamnya. Ia telah membebaskan kata-kata itu dari pembekuan kamus-kamus, dan menghadirkannya dalam dunia puisi yang penuh silang pengaruh. Ia seperti mau membuktikan bahwa kata-kata yang tampak arkais ternyata masih punya daya ucap yang kuat jika seorang penyair mau berupaya menyediakan lahan yang subur untuknya.

Tetapi puisi adalah juga gugatan akan ketidakadilan. Jika kita memakai iman kaum kiri maka kita percaya ketidakadilan dalam hidup ini mesti dilawan dan puisi punya kewajiban itu sepanjang hidupnya. Puisi adalah suara lain, yang subversif, yang ingin menampilkan gambaran yang lebih lengkap tentang dunia ini. Dengan meminjam khazanah kuna yang telanjur diimani banyak orang, penyair ini meneguhkan kembali perlawanan kaum perempuan. Dengan puisinya ia menjadi feminis yang tanpa jargon, teolog tanpa dogma. Kitab suci bukanlah serangkaian dogma yang mesti diikuti dengan iman yang patuh, tetapi sumber ciptaan yang tak ada habisnya. Padanya kita mendapatkan iman Kristen yang sedang diguncangkan, tetapi di saat yang sama ia juga menyediakan pegangan yang lain.

Sekali lagi, dengan caranya masing-masing penyair-penyair ini telah menyegarkan kembali pandangan kita akan dunia kita hari ini, juga khazanah dari masa lalu. Dengan kata-kata yang menolak pembekuan kamus, puisi-puisi mereka hadir dengan semangat meragukan dan ikhtiar yang tiada batas.

Karena itu, kami menetapkan pemenang Khatulistiwa Literary Award 2011 untuk kategori puisi adalah Buli-buli Lima Kaki karya Nirwan Dewanto dan Perempuan yang Dihapus Namanya karya Avianti Armand.

Demikian. Selamat untuk para pemenang. Selamat malam.

Jakarta, 9 November 2010

Dewan Juri Khatulistiwa Literary Award 2011
Hikmat Gumelar
Ibnu Wahyudi
Jamal D. Rahman
Joko Pinurbo
Putu Fajar Arcana
Zen Hae

Published in: on 15 November 2011 at 4:01 pm  Komentar (1)  
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 51 pengikut lainnya.