Pertanggungjawaban Dewan Juri Khatulistiwa Literary Award 2011

Dalam sidangnya beberapa hari lalu Dewan Juri Khatulistiwa Literary Award (KLA) 2011 telah berdebat cukup hangat, jika bukan panas, untuk memastikan siapa-siapa yang layak beroleh kemenangan tahun ini. Sebelum menetapkan siapa-siapa pemenangnya, ada baiknya kami ungkapkan kondisi umum buku-buku yang masuk dalam Lima Besar KLA 2011. Untuk kategori fiksi boleh dibilang hampir tidak ada karya yang unggul sepenuhnya. Baik itu yang ditulis oleh pengarang yang sudah punya nama, maupun yang ditulis oleh pengarang yang terbilang baru muncul. Masing-masing karya seperti membawa cacatnya masing-masing, di samping keunggulan. Tetapi di sini kami membutuhkan pemenang, karena itu penilaian mesti dijalankan dengan prinsip “minus malum”, yang paling sedikit jeleknya.

Yang umum kami rasakan saat membacai kembali karya-karya itu adalah belum dipegangnya disiplin berbahasa dalam mengarang. Seakan-akan menulis hanya sekadar masalah apa yang mesti dikatakan seorang pengarang, bukan bagaimana cara mengatakannya. Jika apa yang dikatakan pengarang kita percaya sebagai isi, maka bagaimana mengatakannya adalah bentuk. Isi hampir tidak bisa tampil tanpa bentuk. Sebaliknya, bentuk hanya bisa ada jika ada isi yang menggerakkannya. Karena itu, mengikuti seorang kritikus sastra dari Cina, isi dan bentuk sebenarnya tidak bisa dipisahkan. Bahasa sebagai medium utama karya sastra sudah semestinya dikuasai dengan baik, di samping segi-segi keperajinan yang lain.

Beruntung kami mendapatkan karya yang ditulis dengan kesadaran bahasa yang cukup baik. Pada karya ini kami mendapatkan kenyataan bahwa kehadiran warna lokal dalam khazanah sastra Indonesia bukan soal bagaimana kosa-kata bahasa daerah menyeruak sedemikian rupa demi menunjang nalar cerita, tetapi ia melebur sepenuhnya ke dalam cerita. Ia bukan hanya mendesakkan kosa-kata bahasa daerah atau latar, tetapi juga nalar manusia daerah ketika berhadapan dengan manusia yang datang dari daerah lain. Katakanlah semacam gesekan antara pusat dan daerah, antara kepentingan politik Jakarta yang agresif dan masa depan daerah yang mencemaskan.

Dalam kondisi seperti ini, tiada satu pun manusia yang selamat. Semua adalah korban dari keadaan, dari kebijakan yang kelewat menomorsatukan Jakarta, Jawa, dan mengabaikan daerah-daerah lain. Dan sebagai korban seorang tokoh bukanlah ia yang meratapi nasibnya dari awal sampai akhir kisah. Tetapi ia yang dengan sabar mengisahkan cerita sembari mengambil jarak yang cukup dengan peristiwa itu. Dengan posisi ini ia bukan hanya bisa memberikan simpati kepada siapa saja yang menjadi korban, tetapi juga mengejek kekalahan dan ketololan para korban itu. Sikap mengejek diri sendiri dalam skalanya yang lebih luas membuat kisah menjadi penuh satire dan ironi yang mengejutkan.

Novel ini terasa unggul karena mampu mendedahkan satire dan ironi sebagai jurus cerita yang tidak semua pengarang bisa memainkannya. Ia menjadi subversif karena membantah cara pandang yang selama ini dianggap lazim dan itu disuarakan oleh pengarang yang terhitung orang dalam, ia yang langsung atau tidak langsung menjadi korban. Selama ini kita memandang peristiwa pergolakan politik di daerah dengan bias kepentingan masing-masing. Jika tidak menaruh simpati yang besar kepada para korban dan mengutuki mereka yang memainkan peran dalam kekacauan itu, pasti kita mengutuk pemerintah yang tidak becus mengurusi negeri ini.

Sementara novel ini dengan ringannya menceritakan semua itu dengan rasa humor yang cukup tinggi, di samping tak menghilangkan simpati kepada para korban. Masing-masing peristiwa ditampilkan dengan kengerian yang terus membayang, seperti pembantaian sekelompok penduduk kampung oleh tentara, tetapi di baliknya selalu ada humor dan sikap mencela yang tanpa ampun. Meski naratornya adalah seorang yang bertugas menjaga moral manusia, seorang guru mengaji di desa, tetapi ia tidak bisa menyembunyikan hasratnya untuk memaki dan mencemooh mereka yang tolol dan sok kuasa. Pengarang menampilkan tokoh-tokoh, tak terkecuali tokoh utama, yang tidak lagi hitam putih, tetapi selalu ada sisi lain yang membuat identitasnya tidak pernah tunggal, dan senantiasa bertolak-belakang satu sama lain. Yang juga menggirangkan, novel ini ditulis dalam bahasa Indonesia yang cukup baik, di samping penyuntingan yang rapi.

Karena itu, kami menetapkan pemenang Khatulistiwa Literary Award 2011 untuk kategori fiksi adalah novel Lampuki karya Arafat Nur.

Sementara untuk kategori puisi kami mendapati kenyataan makin banyaknya muka-muka baru yang bermunculan, yang mencoba menggoyang dominasi penyair yang sudah cukup punya nama. Akan tetapi dalam konstelasi seperti ini selalu ada yang bisa disepakati, hanya yang unggul yang bisa bertahan dan terus menggoda imajinasi kita. Masing-masing penyair telah mengeluarkan jurus-jurus terbaiknya untuk membuktikan bahwa karyanyalah yang paling unggul.

Begitulah, jika selama ini kita percaya bahwa puisi cenderung memadatkan dan prosa menguraikan, maka kini kita wajib menyangsikannya. Puisi bukan hanya memadatkan, tetapi juga menguraikan. Puisi adalah juga prosa dalam tampilan yang lain. Atau sebaliknya, prosa adalah puisi yang tengah meluaskan dirinya. Karena itu siapa pun penyair yang bersikukuh pada satu jurus saja akan tampak miskin di tengah kemahakayaan jurus-jurus yang ada. Puisi pada akhirnya menjadi seluas dunia, dan ia bisa menyadap semangat bukan hanya dari dunia hari ini yang membosankan, tetapi juga dari khazanah kuna, semisal kitab suci dan mitologi.

Pada puisi-puisi penyair ini kita mendapatkan semacam penjelajahan yang terus-menerus sehingga puisi mampu mengucapkan apa saja, dengan bahasa yang terus-menerus diperluas dan disegarkan. Dalam bentuknya sendiri ia bukan hanya mengolah sajak empat seuntai (kuatrin) atau dua seuntai, tetapi juga puisi-prosa, makhluk hibrida yang tidak gampang ditebak jenis kelaminnya. Kadang-kadang ia menggunakan bentuk tradisional bukan sekadar bersenang-senang dengan khazanah lama, tetapi juga mempertanyakan kaum penyair yang tengah memanjakan seleranya dengan puisi bebas.

Sementara kata-kata tampak menjadi segar di dalamnya. Ia telah membebaskan kata-kata itu dari pembekuan kamus-kamus, dan menghadirkannya dalam dunia puisi yang penuh silang pengaruh. Ia seperti mau membuktikan bahwa kata-kata yang tampak arkais ternyata masih punya daya ucap yang kuat jika seorang penyair mau berupaya menyediakan lahan yang subur untuknya.

Tetapi puisi adalah juga gugatan akan ketidakadilan. Jika kita memakai iman kaum kiri maka kita percaya ketidakadilan dalam hidup ini mesti dilawan dan puisi punya kewajiban itu sepanjang hidupnya. Puisi adalah suara lain, yang subversif, yang ingin menampilkan gambaran yang lebih lengkap tentang dunia ini. Dengan meminjam khazanah kuna yang telanjur diimani banyak orang, penyair ini meneguhkan kembali perlawanan kaum perempuan. Dengan puisinya ia menjadi feminis yang tanpa jargon, teolog tanpa dogma. Kitab suci bukanlah serangkaian dogma yang mesti diikuti dengan iman yang patuh, tetapi sumber ciptaan yang tak ada habisnya. Padanya kita mendapatkan iman Kristen yang sedang diguncangkan, tetapi di saat yang sama ia juga menyediakan pegangan yang lain.

Sekali lagi, dengan caranya masing-masing penyair-penyair ini telah menyegarkan kembali pandangan kita akan dunia kita hari ini, juga khazanah dari masa lalu. Dengan kata-kata yang menolak pembekuan kamus, puisi-puisi mereka hadir dengan semangat meragukan dan ikhtiar yang tiada batas.

Karena itu, kami menetapkan pemenang Khatulistiwa Literary Award 2011 untuk kategori puisi adalah Buli-buli Lima Kaki karya Nirwan Dewanto dan Perempuan yang Dihapus Namanya karya Avianti Armand.

Demikian. Selamat untuk para pemenang. Selamat malam.

Jakarta, 9 November 2010

Dewan Juri Khatulistiwa Literary Award 2011
Hikmat Gumelar
Ibnu Wahyudi
Jamal D. Rahman
Joko Pinurbo
Putu Fajar Arcana
Zen Hae

Iklan
Published in: on 15 November 2011 at 4:01 pm  Comments (1)  

Pengumuman Pemenang KLA 2011

Kami ucapkan selamat kepada:

Avianti Armand (Perempuan yang Dihapus Namanya)

dan

Nirwan Dewanto (Buli-buli Lima Kaki)

sebagai para pemenang kategori Puisi

serta,

Arafat Nur (Lampuki)

sebagai pemenang kategori Fiksi

Sampai ketemu lagi di KLA 2012!

Published in: on 9 November 2011 at 6:37 pm  Comments (1)  

Undangan Terbuka KLA 2011

Kami mengundang teman-teman penulis, pengamat, wartawan, pembaca, dan siapa saja yang berminat untuk menyaksikan penganugerahan sastra Khatulistiwa 2011. Silakan klik undangan di atas untuk mengetahui detail acara. Kami tunggu kehadirannya, sampai jumpa!

Published in: on 4 November 2011 at 7:07 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

5 Besar KLA 2011

Kepada para pembaca yang setia, tahap penjurian telah melaju melewati pemilihan 5 besar calon penerima anugerah. Terima kasih atas dukungan dan perhatian yang telah diberikan selama proses berjalan. Berikut ini kami sampaikan nama pengarang dan judul buku yang terpilih dalam 5 besar, yang disusun secara acak.

Fiksi
1. Lampuki
Arafat Nur
Serambi, Mei 2011

2. Hotel Prodeo
Remy Sylado
KPG, Juli 2010

3. Tantri, Perempuan yang Bercerita
Cok Sawitri
Penerbit Buku Kompas, Mei 2011

4. Tak Ada Santo dari Sirkus
Seno Joko Suyono
Lamalera, September 2010

5. 86
Okky Madasari
Gramedia Pustaka Utama, Maret 2011

Puisi
1. Perempuan yang Dihapus Namanya
Avianti Armand
a publication, November 2010

2. Segara Anak
Sindu Putra
Pustaka Ekspresi, September 2010

3. Luka Mata
Hasan Aspahani
Penerbit Koekoesan, Juli 2010

4. Pembuangan Phoenix
A Muttaqin
Amper Media, Maret 2011

5. Buli-buli Lima Kaki
Nirwan Dewanto
Gramedia Pustaka Utama, November 2010

Jakarta, 21 Oktober 2011
Panitia KLA

Published in: on 21 Oktober 2011 at 8:18 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Longlist KLA 2011

Kepada para penikmat sastra, masyarakat pembaca, para akademi, dan praktisi sekalian, di bawah ini kami umumkan daftar 10 besar judul karya dan nama-nama penulis yang telah tersaring dari proses penjurian KLA 2011. Urutan ditampilkan secara acak.

Kategori Fiksi:

1. Tantri, Perempuan yang Bercerita (novel)
Cok Sawitri
Penerbit Buku Kompas, Mei 2011

2. Hotel Prodeo (novel)
Remy Sylado
Kepustakaan Populer Gramedia, Juli 2010

3. Matinya Seorang Atheis (kumcer)
Zaim Rofiqi
Penerbit Koekoesan, Juni 2011

4. 86 (novel)
Okky Madasari
Gramedia Pustaka Utama, Maret 2011

5. Lampuki (novel)
Arafat Nur
Serambi, Mei 2011

6. Sampan Zulaiha (kumcer)
Hasan Al Banna
Penerbit Koekoesan, Maret 2011

7. Tak Ada Santo dari Sirkus (novel)
Seno Joko Suyono
Lamalera, September 2010

8. Senjakala (novel)
Ni Komang Ariani
Penerbit Koekoesan, Oktober 2010

9. Kereta Tidur (kumcer)
Avianti Armand
Gramedia Pustaka Utama, Juni 2011

10. Anak Arloji (kumcer)
Kurnia Effendi
Serambi, Maret 2011

Kategori Puisi:

1. Biar!
Nanang Suryadi
Indie Book Corner, Februari 2011

2. Luka Mata
Hasan Aspahani
Penerbit Koekoesan, Juli 2010

3. Kembang Pitutur
Alek Subairi
Amper Media, Maret 2011

4. Sebait Pantun Bujang
Agit Yogi Subandi
Dewan Kesenian Lampung, Desember 2010

5. Pembuangan Phoenix
A Muttaqin
Amper Media, Maret 2011

6. Segara Anak
Sindu Putra
Pustaka Ekspresi, September 2010

7. Buli-buli Lima Kaki
Nirwan Dewanto
Gramedia Pustaka Utama, November 2010

8. Mencari Pura
I Gusti Ayu Agung Mas Triadnyani
Penerbit Koekoesan, Juni 2011

9. Desis Ular
Arya Winanda
Dewan Kesenian Lampung, Desember 2010

10. Perempuan yang Dihapus Namanya
Avianti Armand
a publication, November 2010

Jakarta, 7 Oktober 2011
Panitia KLA 2011

Published in: on 7 Oktober 2011 at 5:45 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Khatulistiwa Literary Award 2011

Tahun ini Khatulistiwa Literary Award kembali diselenggarakan. Hadir dengan dua kategori, yaitu Fiksi dan Puisi, KLA 2011 akan menganugerahkan penghargaan untuk karya-karya terbaik yang terbit antara periode Juli 2010-Juni 2011. Masing-masing pemenang akan mendapatkan hadiah sebesar Rp50.000.000.

Di bawah ini adalah syarat-syarat karya yang berhak masuk ke proses penjurian:

1. Ditulis oleh penulis Indonesia dalam bahasa Indonesia.
2. Berupa kumpulan cerpen atau novel (tunggal) dan kumpulan sajak (tunggal). Antologi bersama tidak diperkenankan.
3. Diterbitkan di Indonesia dalam kurun waktu Juli 2010 s/d Juni 2011.
4. Merupakan karya sastra asli yang diterbitkan pertama kali dalam bentuk buku. Edisi cetak ulang tidak diperkenankan.

Bagi para penerbit yang berminat ikut serta, silakan mengirimkan buku-bukunya (masing-masing judul 8 eksemplar) untuk dinilai oleh tim juri ke alamat:

Ninus D. Andarnuswari
Jl Beringin No 51 RT 2 RW 18
Depok 16423

Terima kasih atas partisipasinya. Sampai jumpa di Malam Anugerah Khatulistiwa Literary Award 2011.

Panitia KLA 2011

Published in: on 15 April 2011 at 7:05 pm  Comments (1)